HomeAsk More

The Light in Her Eyes (2011)

(Source: slumkitty)



The Purpose of Your Existence

I may sometimes losing my grip, but I realize the purpose of my existence is making people around me happy. I’m not gonna please them, but surely I will make them happy.


Grow Up and Grow Apart

I used to love taking photos. I used to love having my photos sorted carefully in each folder by the time or event. I love having my captured moment in discrete form.

But as I grow up, I don’t feel it as exciting as before. I no longer collecting photos or having photos taken many times with my own camera so I don’t need to ask someone to transfer the photos. It just doesn’t fit me anymore. I have no particular reason. I just feel that I don’t want to do so.

The point is, I don’t think I could understand entirely the change in people. But commonly, when people grow up, they grow apart. It’s natural and inevitable. Change is unavoidable. And (maybe) mostly, it has no specific reason. Sometimes the thing that was so me is no longer my thing. It just doesn’t fit anymore.


The thing that keeps me awake is dreaming.

Sejauh ini hal yang gue pikirin hanya seputar apakah gue harus fokus mencari beasiswa, fokus mencari kerja, atau pada akhirnya “mana dulu yang dapet”. Buat urusan beasiswa gue sudah pernah gagal, not to mention persiapan yang gue lakukan memang sangat minim. Akhirnya gue belajar bahwa buat mendapatkan apa yang gue inginkan pasti butuh usaha yang besar.

Dimulai dari semester 8 dengan kebosanan gue karena kuliah tinggal sedikit tapi skripsi bikin crazy (biar rimanya cakep), gue memutuskan utk memulai persiapan perburuan beasiswa gue. Gue bilang memulai persiapan, karena di sini gue benar-benar memulai dari 0. Gue mencari informasi beasiswa yang gue incar, menghubungi konsultan pendidikan (bahkan dengan rajin mengirimi email untuk mencari tahu seluk beluk beasiswa itu), sampai mempersiapkan bahasa. Gue ambil les IELTS preparation class di salah satu lembaga di Depok dan kemudian langsung mengambil tesnya setelah selesai les. Gue bisa bilang dari semua semester yang gue jalani, semester 8 adalah semester yang paling bikin gue enjoy. Akhirnya gue sadar, yang bisa membuat gue enjoy menjalani itu adalah aktivitas gue yang didasari oleh mimpi dan kesenangan gue. Di samping les dan kuliah (plus skripsi), gue coba-coba jadi guru privat les dan ikutan jadi asisten di salah satu mata kuliah. Praktis kehidupan semester 8 gue cukup “ramai” tapi menyenangkan :) Alhamdulillah setelah menjalani les 3 bulan dan mengambil tesnya, nilai gue mencukupi untuk memenuhi persyaratan S2 di Eropa. At least I think I’m holding 50% of the requirements :p hohoho.

Setelah sidang skripsi kegalauan gue makin berkembang. Education consultant yang gue hubungi menyarankan gue buat fokus utk persiapan melanjutkan studi karena dokumen yang harus disiapkan untuk apply tidak sedikit. Kedua orang tua gue pada dasarnya membebaskan, tapi lebih menyarankan untuk mencari kerja sembari mempersiapkan perburuan beasiswa. Semacam “mana dulu yang dapet deh”.

Gue mulai mencari kerja dan ujung-ujungnya yang gue apply adalah….. Bank :’) Gue sempat ikut tes di salah satu bank dan lolos di tahap awal, tapi tidak lolos di interview pertama. Gue anggap ini sebagai jawaban doa gue yang meminta ke Allah “tolong tutup yang bukan jalanku dan buka selebar-lebarnya yang memang milikku”.

Dan memang, the thing that keeps me awake is my dream. Mungkin karena gue masih “highly passionate in scholarship hunting” Allah belum memberikan gue jalan buat dapat pekerjaan. Tapi gue memang berpikir, basi banget hidup gue kalo biasa-biasa aja. Gue mau beraktivitas sesuai impian gue. Mengejar mimpi memang tidak mudah, tapi justru itu lah yang bikin gue bersemangat setiap harinya :)





1 2 3 4 5 »
Theme By: Dyarenesis